Balai Gakkum KLHK Wilayah Maluku Papua Amankan 85 Ekor Satwa Dilindungi

  • Whatsapp
banner 468x60

Ternate,  LiraNews – Operasi Gabungan Penindakan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilakukan oleh Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup  dan  Kehutanan  Wilayah  Maluku  Papua  bersama  dengan  BKSDA  Maluku  Seksi Konservasi Wilayah I Ternate dan Polairud  Polda Maluku Utara pada  tanggal  20 sampai dengan 29 September 2019 mengamankan 4 pelaku berinisial IU (34 tahun), AS (29 tahun),  IS  (40 tahun)  dan  RW  (58 tahun)  serta  Barang Bukti  Satwa Liar Dilindungi sebanyak 85 ekor, yang terdiri dari : Kasturi ternate (Lorius garrulus) 49 ekor; Kakatua putih (Cacatua alba) 15 ekor; Nuri bayan (Eclectus roratus) 11 ekor; Nuri kalung ungu (Eos squamata) 10 ekor; Gantungan burung sebanyak 59 buah dan; kandang sebanyak 3 buah.

Penangkapan ini berawal dari operasi Intelijen Balai Gakkum Maluku Papua bersama Balai  KSDA  Maluku  Seksi  Wilayah  I  Ternate  yang  dilakukan  dengan  cara  menyamar sebagai pembeli burung di 4 kabupaten di Provinsi Maluku Utara yaitu Desa Dehegila Kecamatan  Morotai  Selatan  Kabupaten  Morotai;  Desa  Kalipitu  Kecamatan  Tobelo Tengah  Kabupaten  Halmahera  Utara;  Desa  Cemara  Jaya  Kecamatan  Wasile  Utara Kabupaten Halmahera Timur dan Desa Sailal Kecamatan Maba Kabupaten Halmahera Timur.  Pelaku  diduga  merupakan  sindikat  mata  rantai  jaringan  perdagangan Tumbuhan Satwa Liar di Maluku Utara.

Kepala Seksi Wilayah II Ambon Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Wilayah Maluku Papua, Yosef Nong mengatakan, berdasarkan  keterangan  para  pelaku  modus  penangkapan  burung  dilakukan menggunakan  lem  getah/teru  pohon  sukun  yang  diletakan  di  cabang/ranting  kayu bersama  dengan  burung  pancing  dimana  burung  pancing  ini  akan  bersuara  atau berkicau memancing burung lainnya.

Yosef Nong

“Saat  ini  4  pelaku  telah  ditetapkan  sebagai  Tersangka  oleh  penyidik  KLHK  dan menjalani proses penyidikan untuk mengungkap  keterlibatan pihak lain yang masuk dalam  mata  rantai  jaringan  perdagangan  tumbuhan  dan  satwa  liar  yang  dilindungi ,sementara  barang  bukti  dilakukan  titip  rawat  ke  Kantor  Seksi  Wilayah  I  Balai  KSDA Maluku di Ternate,” ujarnya.

Penyidik menjerat para pelaku dengan Pasal 21 ayat 2 huruf a dan c jo Pasal 40 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara  paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Yosef Nong menjelaskan  bahwa  Provinsi  Maluku  Utara  adalah salah satu simpul perdagangan satwa  burung paruh bengkok,  lokasinya yang strategis dan  tipe  kepulauan  yang  memiliki  banyaknya  pintu  keluar  berupa  pelabuhan  rakyat.

“Sehingga  petugas  mengalami  kesulitan  dalam  pengawasan,  untuk  itu  dibutuhkan sinergirtas  antar  penegak  hukum  dalam  penanganan  perdagangan  satwa  liar  yang dilindungi khususnya paruh bengkok di sekitar wilayah Maluku Utara,” ujarnya. LN-SUB

banner 300x250

Related posts

banner 468x60